Forward Dari Seorang Teman

•11 June, 2008 • Leave a Comment

flamesNgenes..

Islam di Indonesia mulai ngenes. Kasihan Allah. Kebesaran Namanya dijadikan teriakan pengobar semangat. Dari mulut umatNya untuk umatNya pula. “ALLAHUAKBAR!” dan ranting bambu tersabit, toa dihempas,lalu membocorkan kepala sodaramu sendiri. satu kepala dua bahkan sembilan tumbang ditangan orang2 yang katanya seAgama. seTuhan, sebangsa dan sejenis, manusia.

Jika bisa ku kurim SMS ke atas sana. aku akan minta “Tuhan Ganti Namamu. Terlalu kotor namamu itu. Sudah terlalu banyak nama-Mu berkecipak darah, darah orang2 yang menjilati kaki-Mu. Kemana surga yang dijanjikan. kemana neraka yang dijanjikan. ataukah itu muslihat-Mu belaka. Untuk membenarkan pembenaran diatas kehendak umat-Mu.

Ataukah hukum yang kamu turunkan hanya secarik poster pengumaman “INILAH HUKUMKU, PATUHILAH SEMAUMU” seperti itukah? Kebesaran nama-Mu terlalu mungil ditangan2 otak kredil. Turun kesini Tuhan, ayo aku ajak Kamu menjenguk umatmu yang porak poranda kepalanya. Yang anaknya merengek ibunya terjepit pukulan,yang suaminya mengeram sakit menghadang hardikan dan seorang istri yang meringkuh rendah menyebut-Mu untuk bisa melihat suaminya pulih dari luka, luka dirajam kepalan, tongkat, besi, tendangan, cacian. Semua setelah mulut mereka dibasuh, tersumpal, dan memekik nama-MU ALLAHUAKBAR!!”.

Ku harap Kamu balas SMSku. Ku tunggu. sebelum umat-umat-Mu membunuh atas nama-MU.

Dari Aji

Berdua ke Padhangmbulan

•1 June, 2008 • 2 Comments

Emha di Mocopat Syafa\'at

Tepat pukul 8 malam, saya dan Johan berangkat menuju Bantul. Malam itu sedianya tidak hanya kami berdua yg akan mengikuti kumpulan bulanan Jamaah Maiyah Padangmbulan/Mocopat Syafa’at dibulan Mei ini. Ada beberapa teman yang jauh2 hari sebelumnya sudah merencanakan untuk berangkat, namun malam itu agaknya kesibukan harus memupuskan niat mereka. Terpaksa kami berangkat hanya berdua meski jarak dari rumah lumayan jauh. Maklum, rumah kami berada di ujung paling timur propinsi sedangkan perhelatan jamaah berada di ujung barat kota. Ya, Kalasan – Kasihan harus kami tempuh dalam 45 menit perjalanan dengan kecepatan sedang. Namun keinginan yang kuat serta kehausan kami akan lantunan gamelan KiaiKanjeng membuat perjalanan serasa menjadi enteng.

Perpaduan suara demung, saron, biola dan keyboard yang menawan serta alunan lagu Tombo Ati yang dibawakan dengan sempurna pasti akan mengobati kerinduan akan KiaiKanjeng,” pikir saya. Maklum saja, sudah setahun lebih saya tak mengikuti “tour” KiaiKanjeng semenjak peringatan setahun gempa tahun lalu di JEC. Sehingga kehadiran malam itu semoga benar-benar bisa mengobati rasa kangen

Tak terasa sampai juga kami di TKIT Alhmdulillah, tempat dimana kumpulan bulanan Jamaah Maiyah diselenggarakan, kami menyebutnya ngaji pitulasan, karena diadakan setiap tanggal 17 setiap bulannya. Saya sudah tak sabar lagi untuk segera menikmati lantunan musik Kyai Kanjeng serta lontaran-lontaran pemikiran Cak Nun yang dialogis dan sangat membumi itu. Bagi saya, musik Kyai Kanjeng menyuguhkan warna musik yang unik dan begitu indah untuk didengar. Dentingan gamelan yang mendominasi hampir di semua lagu menciptakan suatu komposisi yang apik dan menggetarkan dada ini.

Nomer demi nomer mulai dibawakan dan disetiap lagu Cak Nun selalu meyelipkan waktu untuk terbukanya ruang dialog. Inilah kehebatan Cak Nun dan KiaiKanjeng dalam mengkolaborasikan musik dengan dialog tentang isu-isu yang sedang berkembang di masyarakat. Melalui setiap komposisi Cak Nun seakan mengajak seluruh audiens ikut berperan dalam pemecahan masalah yang sedang dihadapi melalui dialog ringan namun tetap mengedepankan potensialitas masyarakat, sehingga tak ada yang menggurui atau merasa digurui. Tak terasa audiens pun ikut dalam suasana problem solving yang hangat dan partisipatif.

Topik malam itu ternyata memang seperti yang sudah saya duga sebelumnya, yaitu tentang rencana kenaikan BBM oleh pemerintah. Kebanyakan audiens, seperti halnya seluruh rakyat umumnya, menolak rencana pemerintah tersebut dan bahkan ada yang sedikit emosional dan mengatakan sudah kapok dengan pasangan kali ini. Suasana menjadi gerr karena pada malam itu pengajian kedatangan tamu perwakilan pemuda Islam dari Australia yang disetiap pembicaraan Cak Nun selalu ditranslate dan ketika Cak Nun ngelokke seorang temannya pakai bahasa jawa, sang translator pun kebingungan mau menerjemahkan apa, dan audiens pun ngakak.

Malam itu Cak Nun juga kedatangan tamu seorang pastur dari Geraja Paroki Pugeran. Dalam kesempatan itu Cak Nun kembali ingin menunjukkan betapa indahnya kedamaian diantara sesama anak bangsa. “Sejak zaman nenek moyang, bangsa ini sudah plural dan bisa hidup rukun. Mungkin sekarang ada intervensi dari negara luar,” ujar Cak Nun. Dia dengan tegas menyatakan mendukung pluralisme. Menurutnya, pluralisme bukan menganggap semua agama itu sama. Islam beda dengan Kristen, dengan Buddha, dengan Katolik, dengan Hindu. Tidak bisa disamakan, yang beda biar berbeda. Kita harus menghargai itu semua,” tutur budayawan intelektual itu. Dalam kesempatan malam itu KiaiKanjeng kembali melantunkan musik gospel Malam Kudus untuk mengiringi lagu Shalawat yang dinyanyikan oleh Cak Nun. Tepuk tangan dan teriakan penonton pun membahana setelah shalawat itu selesai dilantunkan.”Tidak ada lagu Kristen, tidak ada lagu Islam. Saya bukan bernyanyi, saya ber-shalawat,” ujarnya menjawab pertanyaan yang ada di benak jemaah. Ya, itulah pemikiran Cak Nun yang kadang kontroversial namun menyegarkan hati dan pikiran ditengah citra Islam belakangan ini yang identik dengan kekerasan dan radikalisme.

Menikmati suasana pengajian yang hangat sembari diselingi lantunan lagu Ummi Khultsum yang dibawakan KiaiKanjeng malam itu membuat kami tak sadar bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Meski masih ada beberapa nomer lagi yang akan dibawakan oleh KaiKanjeng sebagai penutup pengajian nampaknya kami harus segera merelakan diri untuk beranjak pulang, mengingat perjalanan yang lumayan jauh. Akhirnya, sekelumit pemikiran telah tertancap dalam otak kami dan segudang kerinduan telah terobati, mengiringi perjalanan pulang kami.

Lebih jauh tentang KiaiKanjeng klik disini

Sekedar berbagi

•7 November, 2007 • 5 Comments

kepal_biru.pngWaktu telah berlalu sejak pelantikan pengurus Prakle yang baru. Tak terasa sudah dua periode kepengerusan alias empat tahun berlalu sejak saya lengser dari jabatan ketua. Waktu kembali menyadarkan betapa umur ini semakin bertambah dan jatah hidup kita sebagai manusia juga semakin berkurang, bak sebatang lilin yang meleleh dan akhirnya redup setelah sekian lama menerangi gelapnya malam.

Waktu,mengingatkan kembali akan memori-memori kala menjadi ketua dulu. Segudang perasaan bangga dan bingung bercampur jadi satu saat diguyur air kembang sesudah mengucap sumpah jabatan. Disaksikan segenap warga Prakle dan rindangnya pohon pinus lereng Merapi serta hembusan dinginnya angin lembah yang merangkul badan ini, suasana begitu mencerahkan. Seakan memberi semangat untuk segera berkiprah dan mengeluarkan segala jurus untuk memajukan orgnisasi ini. Semangat itu begitu menggelora seakan-akan Prakle ini adalah organisasi yang besar dan bonafid hingga harus benar-benar ditangani dengan kesungguhan hati dan pikiran yang mendalam.

Memang kala itu begitu terasa semangat dan keinginan untuk membangunkan kembali Prakle yang sempat vakum atau paling tidak memberikan perubahan dalam organisasi ini, karena konon organisasi ini pernah maju, paling tidak untuk ukuran kalurahan sehingga harus dicari cara agar minimal bisa tetap eksis. Meski hanya di level kalurahan namun kegiatan-kegiatan yang pernah dilakukan oleh Prakle telah menunjukkan kepada masyarakat bahwa organisasi tingkat kampung ternyata mampu menghasilkan event dan kegiatan yang positif bagi perkembangan pemuda dan ikut andil dalam memajukan masyarakat. Tak ayal lagi waktu itu Prakle telah menjadi organisasi pemuda yang cukup disegani dan “ditakuti” oleh organisasi pemuda di seluruh kalurahan ini bahkan oleh pemerintah setempat dan menjadikan organisasi ini sebagai primadona.

Namun semua itu hanyalah pandangan subyektif saja yang tak perlu diamini, pada kenyataannya, dan saya yakin, sebagian besar bahkan hampir semua warga Prakle memandang organisasi ini tak lebih hanya sebuah perkumpulan remaja ndeso yang kiprahnya paling banter hanya sampai tingkat kecamatan saja, bahkan untuk ditulis di lamaran kerja sebagai referensi dalam mencari pekerjaan pun tidak menjual alias kurang ngefek. Pandangan seperti itu memang wajar saja karena memang kenyataannya menunjukkan seperti itu.

Sekecil apapun organisasi ini tidaklah penting bagi saya, yang terpenting adalah sebesar apa yang bisa kita perbuat untuk orang-orang disekitar kita melalui kendaraan organisasi ini. Tidak peduli apakah itu akan menunjang karir atau tidak, yang penting bisa memberi manfaat bagi orang lain. Tidak terbayang dalam benak untuk mendapatkan kehormatan apalagi materi dan ketenaran. Paling-paling hanya ibu-ibu yang menganggukkan kepala saat berpapasan atau adik – adik kecil seumur Wonde yang memanggil-manggil kita saat lewat di kerumunan mereka.Tapi ada satu keyakinan dalam diri, bahwa apa yang saya lakukan ini, meski kecil, akan mendapatkan balasan dari yang di Atas, entah saat kita masih bisa bernapas atau nanti saat berada di alam “sana”.

Waktu itu saya sungguh beruntung karena kebanyakan yang menjadi pengurus adalah teman-teman yang masih sebaya, sehingga dalam hal komunikasi tidaklah terlalu sulit. Ditambah lagi kepengurusan sebelumnya, telah berperan besar dalam menertibkan dan menata kembali administrasi organisasi. Disamping itu sebagian besar dari teman-teman ini punya nyali besar untuk sesegera mungkin melakukan perubahan atau paling tidak mengulang kembali masa-masa “keemasan” Prakle jaman dulu. Sehingga tidaklah terlalu sulit bagi saya untuk menggerakkan teman-teman dalam memulai satu kegiatan, karena bermodalkan nyali dan tekad yang sama. Kenapa nyali dan tekad? Ya, karena itulah yang menjadi ruh penggerak waktu itu, meskipun dengan keterbatasan pengalaman dan SDM yang dimiliki namun semua halangan pada akhirnya dapat dilalui. Seperti ketika memulai penggalangan dana, dengan pe-denya teman-teman masuk dari satu kantor ke kantor lainnya dengan hanya bermodalkan proposal yang boleh dikatakan ‘ndesit’ dan ‘wagu’. Belum lagi kocek yang harus dirogoh untuk sekedar membeli uang bensin.

Semua itu dilakukan bukan semata-mata tanpa hasil, memang dari segi tujuan, yaitu diperolehnya sponsor tidak seperti yang diharapkan, namun dari segi pengalaman merupakan pelajaran yang sangat berharga betapa sebuah proposal dengan konsep, bahasa dan tata letak yang menarik sangat penting untuk diperhatikan karena menjadi cermin dari keseriusan kita dalam mengadakan suatu kegiatan. Ditambah lagi dengan sindiran senior yang membandingkan kesuksesan masa lalu dengan keadaan waktu itu, semakin memacu adrenalin teman-teman untuk membuktikan diri bahwa kita juga bisa. Alhasil,kerja keras dari semua ini akhirnya sedikit demi sedikit mampu mengembalikan wajah Prakle di mata masyarakat.

Kini waktu telah bergulir tanpa terasa.Teman-teman yang dulu menjadi penggerak kebangkitan Prakle lambat laun mulai lepas satu demi satu dan generasi baru pun nampaknya telah muncul menghiasi wajah organisasi ini. Memang tak bisa dipungkiri proses alamiah ini harus terjadi dan generasi baru diharapkan mampu menjaga wajah yang sudah baik ini agar tidak bopeng lagi, bahkan mampu menjadikannya lebih cantik, luar maupun dalam. Setiap kepengurusan dan generasi memang punya tantangannya masing-masing dan tidak bisa dibandingkan bahwa generasi dulu lebih enak dari generasi sekarang atau sebaliknya.

Untuk itu tampilnya wajah-wajah baru dalam kepengurusan sekarang patut untuk disyukuri dan perlu terus untuk dimotivasi agar tetap kreatif dan semangat, dengan harapan organisasi ini tetap hidup dan berkembang seiring dengan dinamika masyarakat. Prakle bukanlah suatu beban namun sebagai wahana kita untuk belajar dan mengasah ‘ sense of social ‘ dalam diri kita. Percuma saja hidup bergelimang harta dan kesuksesan bila mata hati kita buta terhadap kondisi masyarakat disekitar kita. Selama kita masih berpijak dibumi dan menghembuskan napas, selama itu pula kita akan tetap hidup bersama orang lain.(rinto)

Jadoel style

•1 October, 2007 • 3 Comments

confusion …

First step

•1 October, 2007 • 1 Comment


Selamat Datang di blog ini.