Berdua ke Padhangmbulan

Tepat pukul 8 malam, saya dan Johan berangkat menuju Bantul. Malam itu sedianya tidak hanya kami berdua yg akan mengikuti kumpulan bulanan Jamaah Maiyah Padangmbulan/Mocopat Syafa’at dibulan Mei ini. Ada beberapa teman yang jauh2 hari sebelumnya sudah merencanakan untuk berangkat, namun malam itu agaknya kesibukan harus memupuskan niat mereka. Terpaksa kami berangkat hanya berdua meski jarak dari rumah lumayan jauh. Maklum, rumah kami berada di ujung paling timur propinsi sedangkan perhelatan jamaah berada di ujung barat kota. Ya, Kalasan – Kasihan harus kami tempuh dalam 45 menit perjalanan dengan kecepatan sedang. Namun keinginan yang kuat serta kehausan kami akan lantunan gamelan KiaiKanjeng membuat perjalanan serasa menjadi enteng.
“Perpaduan suara demung, saron, biola dan keyboard yang menawan serta alunan lagu Tombo Ati yang dibawakan dengan sempurna pasti akan mengobati kerinduan akan KiaiKanjeng,” pikir saya. Maklum saja, sudah setahun lebih saya tak mengikuti “tour” KiaiKanjeng semenjak peringatan setahun gempa tahun lalu di JEC. Sehingga kehadiran malam itu semoga benar-benar bisa mengobati rasa kangen
Tak terasa sampai juga kami di TKIT Alhmdulillah, tempat dimana kumpulan bulanan Jamaah Maiyah diselenggarakan, kami menyebutnya ngaji pitulasan, karena diadakan setiap tanggal 17 setiap bulannya. Saya sudah tak sabar lagi untuk segera menikmati lantunan musik Kyai Kanjeng serta lontaran-lontaran pemikiran Cak Nun yang dialogis dan sangat membumi itu. Bagi saya, musik Kyai Kanjeng menyuguhkan warna musik yang unik dan begitu indah untuk didengar. Dentingan gamelan yang mendominasi hampir di semua lagu menciptakan suatu komposisi yang apik dan menggetarkan dada ini.
Nomer demi nomer mulai dibawakan dan disetiap lagu Cak Nun selalu meyelipkan waktu untuk terbukanya ruang dialog. Inilah kehebatan Cak Nun dan KiaiKanjeng dalam mengkolaborasikan musik dengan dialog tentang isu-isu yang sedang berkembang di masyarakat. Melalui setiap komposisi Cak Nun seakan mengajak seluruh audiens ikut berperan dalam pemecahan masalah yang sedang dihadapi melalui dialog ringan namun tetap mengedepankan potensialitas masyarakat, sehingga tak ada yang menggurui atau merasa digurui. Tak terasa audiens pun ikut dalam suasana problem solving yang hangat dan partisipatif.
Topik malam itu ternyata memang seperti yang sudah saya duga sebelumnya, yaitu tentang rencana kenaikan BBM oleh pemerintah. Kebanyakan audiens, seperti halnya seluruh rakyat umumnya, menolak rencana pemerintah tersebut dan bahkan ada yang sedikit emosional dan mengatakan sudah kapok dengan pasangan kali ini. Suasana menjadi gerr karena pada malam itu pengajian kedatangan tamu perwakilan pemuda Islam dari Australia yang disetiap pembicaraan Cak Nun selalu ditranslate dan ketika Cak Nun ngelokke seorang temannya pakai bahasa jawa, sang translator pun kebingungan mau menerjemahkan apa, dan audiens pun ngakak.
Malam itu Cak Nun juga kedatangan tamu seorang pastur dari Geraja Paroki Pugeran. Dalam kesempatan itu Cak Nun kembali ingin menunjukkan betapa indahnya kedamaian diantara sesama anak bangsa. “Sejak zaman nenek moyang, bangsa ini sudah plural dan bisa hidup rukun. Mungkin sekarang ada intervensi dari negara luar,” ujar Cak Nun. Dia dengan tegas menyatakan mendukung pluralisme. Menurutnya, pluralisme bukan menganggap semua agama itu sama. Islam beda dengan Kristen, dengan Buddha, dengan Katolik, dengan Hindu. Tidak bisa disamakan, yang beda biar berbeda. Kita harus menghargai itu semua,” tutur budayawan intelektual itu. Dalam kesempatan malam itu KiaiKanjeng kembali melantunkan musik gospel Malam Kudus untuk mengiringi lagu Shalawat yang dinyanyikan oleh Cak Nun. Tepuk tangan dan teriakan penonton pun membahana setelah shalawat itu selesai dilantunkan.”Tidak ada lagu Kristen, tidak ada lagu Islam. Saya bukan bernyanyi, saya ber-shalawat,” ujarnya menjawab pertanyaan yang ada di benak jemaah. Ya, itulah pemikiran Cak Nun yang kadang kontroversial namun menyegarkan hati dan pikiran ditengah citra Islam belakangan ini yang identik dengan kekerasan dan radikalisme.
Menikmati suasana pengajian yang hangat sembari diselingi lantunan lagu Ummi Khultsum yang dibawakan KiaiKanjeng malam itu membuat kami tak sadar bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Meski masih ada beberapa nomer lagi yang akan dibawakan oleh KaiKanjeng sebagai penutup pengajian nampaknya kami harus segera merelakan diri untuk beranjak pulang, mengingat perjalanan yang lumayan jauh. Akhirnya, sekelumit pemikiran telah tertancap dalam otak kami dan segudang kerinduan telah terobati, mengiringi perjalanan pulang kami.
Lebih jauh tentang KiaiKanjeng klik disini






Padangmbulan tanggal 17 yg sll qt nanti2kn,,,
merindukan saat yg begitu menenangkan ht bersama lantunan syahdu lagu dan ucapan penggerak hati n jiwa..
kpn z qt bs mengisi kalbu qt lg????
kapan sob??????
sbnrna q pgen ikt bos.tp g da kbr smpai pdq.. . .
,smngt y bos prakle soldier siap skseskn bos pna gwe . . . . .. . . .. . . . .